Jumat, 31 Juli 2020

"Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa"

Satu juni tahun empat lima
Adalah waktu lahirnya
Suaranya membahana
Lembut menggema
Hingga masa kini dikenang pula

Di perisai nampak lima lambang
Tiap lambang pun miliki nilai
Luhur semangat berjuang
Dirinya yang kini terbaring mati

Bung Karno
Namamu masih terselip di hati kami
Pidatomu masih akrab di kuping kami

Bung Karno
Tenanglah dalam tidurmu
Kami terus nyalakan gelora apimu

Bung Karno
Di kuburmu kami tabur bunga
Dibandingkan denganmu
Kami bukan apa-apa
Pandanganmu kami beri makna
Pancasila sebagai pemersatu bangsa

Selasa, 02 Juni 2020

"Pelukis Jantan"



(Buat Om Fandy)


Aku tidak benar tahu lebih denganmu
Lantaran jumpa sepintas lalu
Sehabis curai pujian dari kawananmu
Namun begitu walau sekejap bertemu
Malam itu tersingkap coretan kuas milikmu

Selesai saat itu lama sudah kita tak bersua
Tetapi gubahanmu mewarnai dinding maya
Merembes sampai ke lapisan batu bata
Dengan pelan runtuhkan tembok tirani mafia


Didik Pratama
3 Juni 2020

Senin, 18 Mei 2020

"Adik Perempuanku"


Tak Aku sadari waktu telah menghadap
Situasi pada saat pancaroba

Dinda serahim dengan ku
Beranjak ingin tahu
Tentang masa taruna
Yang menemuinya

Bermacam wejangan mengalir untukmu
Sebagai pedoman bermutu
Lasuh nalar jiwamu


Didik Pratama
Mei 2020

Jumat, 06 Maret 2020

"Harapan Jodoh"


Di pelabuhan waktu seorang lelaki
Bersimpuh gulana tinggikan pedusi
Yang bersedia hapuskan melankoli
Tentang ilusi pada kepergian sendiri

Adakah Wanita ?

Tentu Allah Maha Segalanya
Mengetahui lebih dari ciptaannya

Jangan bersedih !

Tidak kehidupan berakhir disini
Sepertinya kau sementara diuji
Demi kapal sama berdua sebentar
Tinggalkan pelabuhan muktamar
Dengan Perempuan yang kau minta
Hadapi besarnya ombak samudra


Didik Pratama
Maret 2020

Senin, 02 Maret 2020

"Konfrontasi"


Mereka yang menaruh dendam
Kian diperkuda neraka jahanam

Pertumpahan darah dalam
Pertikaian anak cucu Adam
Segenap cahaya hati padam
Malah saling rajam
Kejam menghantam


Didik Pratama
Maret 2020

Jumat, 21 Februari 2020

"Family"


Bapak pejuang namun luruh
Ibarat tupai meloncat sekali jatuh
Bunda bertarung lalu lempar handuk
Bagai topeng monyet dipaksa tunduk

Adinda punya muka ayu
Seperti panda nan lucu
Miliki keahlian molor selalu
Begitu terjaga memakan bambu

Kakanda jalani kehidupan
Sesak dari waktu ingusan
Sampai ini saat dewasa
Sosok bini belum nongol juga

Bangsa kecil dihuni kaum tersendiri
Serupa suku moken di atas perahu
Melaut dari lahir sampai mati
Semata berlangsung hasrat dan nafsu


Didik Pratama
2020

Selasa, 18 Februari 2020

"Tamparan"


Sejak peristiwa musim huru-hara
Kawanan serigala menyangkak bulu
Bak pelan gerak jalan kura-kura
Menuju rawa habitat tempat beradu

Menjelang waktu malam
Lolongan kelompok Serigala
Bersahutan berikan tanda
Hadirnya teror dari alam

Prajurit jaga benteng diserbu
Sesekali dia melepaskan peluru
Malah bertambah ganas maju
Serigala kian garang memburu

Nyaris hilang tenaga
Tubuh bersimbah darah
Harapan pada agama
Tumbuhkan lagi akidah

Sudahlah wahai Prajurit.!

Barangkali kapalmu mesti berlabuh
Cukup lama kau sendiri berlayar
Juga sekarang ombak sedang riuh
Jangan bikin luka tambah lebar


Didik Pratama
2020